Ads Header

Jenis Vitamin yang Larut dalam Air



Vitamin ini biasanya berhubungan dengan bagian cairan tubuh. Vitamin-vitamin yang larut dalam air berfungsi sebagai enzim dalam berbagai reaksi metabolisme tertentu. Sifat-sifat umum vitamin ini adalah molekul itu tidak hanya tersusun atas unsur C, H dan O, molekul itu polar sehingga larut dalam air, tidak mempunyai provitamin, terdapat disemua jaringan, berfungsi sebagai prekursor enzim-enzim, tidak disimpan secara khusus dalam tubuh. 

Vitamin ini akan diekskresikan dalam urin bila kadar serumnya melebihi saturasi jaringan (yang selanjutnya mencerminkan pengikatan kofaktor vitamin ke enzim dan protein transport). Vitamin ini relatif lebih stabil, tetapi dalam kondisi temperatur tinggi menyebabkan tidak stabil. Karena vitamin yang larut dalam air kalau diambil secara berlebihan biasanya diekskresi, vitamin yang larut dalam air biasanya tidak toksik. Semua vitamin yang larut dalam air, kecuali kobalamin (vitamin B12) dapat disintesis oleh tumbuh-tumbuhan dan oleh karena itu terdapat pada kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran berdaun hijau dan ragi.

Baca juga : Pegawai Facebook Boleh Bekerja dari Rumah Selama New Normal  

a. Vitamin B1 (tiamin)

Penemu tiamin adalah Eijman (1897) dan Jansen dan Donath (1926) yang berhasil mengisolasi kristal yang kemudian diberi nama tiamin dari beras. Vitamin B1 terdiri atas satu substitusi pirimidin yang terikat melalui ikatan metilen pada satu substitusi tiasol. Sifat umum vitamin B1 adalah stabil dalam pH sedikit asam, rusak dalam pH alkalis, rusak dalam larutan mineral, larut dalam air dan alkohol 70 persen dan rusak oleh panas. Bentuk sintesis biasanya dalam bentuk garam misalnya tiamin hidroklorida atau tiamin mononitrat. Dalam bentuk garam akan lebih stabil dari pada bentuk vitamin bebas.

Tiamin banyak terdapat dalam daging, bagian luar biji-bijian (oleh karena itu beras merah mempunyai nilai gizi tiamin lebih baik daripada beras putih), kacang-kacangan dan hasil ikutannya, bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah, tepung alfalfa dan ragi. Pada ikan mentah terdapat kandungan tiaminase yang dapat memecah tiamin menjadi dua gugus pirimidin dan pikolin sehingga tiamin menjadi inaktif.

Sumber tiamin yang penting adalah kacang-kacangan dan hasil ikutannya, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan tepung alfalfa. Secara lengkap sumber tiamin dapat dikemukakan pada Tabel 2.4.

Akumulasi asam piruvat dan asam laktat di dalam darah dan jaringan oleh defisiensi tiamin menyebabkan iritabilitas, kehilangan nafsu makan, keletihan, degenerasi selaput mielin dari serabut syaraf, pelemahan otot jantung dan gangguan-gangguan gastrointestinal, polineuritis gallinarum, anoreksia, kehilangan bobot badan, kaki lemah dan blue comb. Defisensi tiamin dapat menyebabkan timbulnya polineuritis pada unggas. Defisiensi kronis menyebabkan star grazing dan atrophy.


b. Vitamin B2 (riboflavin)

Penemu vitamin B2 adalah Emmet dari Detroit pada tahun 1927. Vitamin B2 terdiri atas struktur heterosiklik yang terikat dengan ribitol. Riboflavin membentuk suatu gugus prostetik untuk enzim flavoprotein yang diperlukan untuk reaksi oksidasi dalam metabolisme seluler yang normal. Struktur cincin berkonjugasi, karena itu riboflavin merupakan pigmen yang berwarna dan berfluoresensi. Riboflavin relatif tahan terhadap panas tetapi sensitif terhadap penguraian yang irreversibel pada penyinaran dengan cahaya yang dapat dilihat.

Sumber riboflavin yang penting adalah susu, sayur-sayuran, ragi, daging dan kacang-kacangan. Sumber riboflavin dan kandungannya dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 2.5


Riboflavin sangat berperan dalam fungsi normal jaringan-jaringan yang berasal dari ektoderm seperti kulit, mata dan syaraf. Riboflavin juga mencegah senilitas. Tanda-tanda defisiensi riboflavin mencakup kerontokan rambut, lesion pada kulit, muntah, diare dan gangguan mata. Pada ayam dewasa, defisiensi menyebabkan curled-toe paralysis (paralisis dari jempol kaki yang membengkok ke arah dalam), telur tidak menetas, produksi telur menurun, kematian embrio meningkat, edema, slubbed down (cacat pada down dan degenerasi pada wollfian bodies), hati kasar dan berlemak, pertumbuhan lambat dan atrofi pada otot kaki. Sumber-sumber riboflavin yang potensial adalah ragi, produk-produk susu, hati, ikan dan hijauan pada sayuran dan bakteri autrotof.



c. Vitamin B5 (asam pantotenat) 

Penemu asam pantotenat adalah R.J. William dari USA pada tahun 1933. Asam pantotenat adalah suatu amida dari asam pantoat dan b alanin. Asam pantotenat merupakan bagian dari koenzim A, yang berperan dalam transfer gugus asetil. Hal ini terjadi dalam asetilasi kolin hingga terbentuk asetilkolin, serta dalam asetilasi piruvat dekarboksilat untuk membentuk asetilkolin A dalam siklus Krebs. Koenzim A juga berperan dalam degradasi asam-asam lemak menjadi asetil KoA. Koenzim A adalah gabungan antara merkapto etil amin dengan phosphopantothenoic acid dan adenosin-3'-5' difosfat (pada NADP, posisi adenosin difosfat pada 2'5'). Bagian ujung dari merkapto etil amin terdapat gugus SH atau sulfidril yang merupakan bagian yang penting atau bagian yang aktif dari koenzim A. Oleh karena itu cara menulis koenzim A adalah KoA-SH. Ciri dari asam pantotenat adalah sangat tidak stabil dan berwarna kuning pucat.

Baca juga : Prosesor Baru dari AMD untuk PS5 dan Xbox S Series   

Kebutuhan asam pantotenat pada produksi telur adalah sangat rendah. Pada prakteknya, pada pakan ayam biasanya terdapat cukup kandungan asam pantotenat, tetapi banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan asam pantotenat ini, karenanya suplementasi kalsium pantotenat biasanya ditambahkan pada pakan ayam. Defisiensi asam pantotenat berkaitan dengan gejala dermatitis, hambatan pertumbuhan, kerontokan rambut, pemutihan rambut, serta lesion pada berbagai organ, degenerasi testis, ulcus duodenum, fetus abnormal yang kesemuanya disebabkan oleh oksidasi lemak dan karbohidrat yang tidak berjalan sempurna. Gejala awal defisensi asam pantotenat pada ayam adalah bulu kasar dan borok pada proventrikulus dan usus. Gejala-gejala khas pada ayam adalah bengkak-bengkak pada kelopak mata dan sudut-sudut mulut, pertumbuhan bulu terhambat dan kasar, dan daya tetas telur berkurang. Terjadi pula nekrosis pada bursa fabrisius dan timus.

d. Vitamin B6 (piridoksin)

Penemu piridoksin adalah Szent-Gyorgy pada tahun 1934. Vitamin B6 terdiri atas tiga derivat piridin alam yang berhubungan erat, yaitu : piridoksin, piridoksal dan piridoksamin. Perbedaan dari ke tiga zat tersebut adalah pada rantai C nomor 4. Rantai basis dari zat-zat tersebut adalah piridin. Ke tiganya sama aktif sebagai pra zat koenzim piridoksal fosfat. Piridoksin berperan penting dalam metabolisme protein di mana piridoksal fosfat merupakan suatu koenzim untuk berbagai reaksi kimia yang berkaitan dengan metabolisme protein dan asam amino, seperti transaminasi dan dekarboksilasi. Bentuk piridoksal dan piridoksamin biasanya terdapat dalam produk-produk hewani, sedangkan piridoksin terdapat dalam produk-produk tanaman. Piridoksin lebih tahan terhadap pemanasan daripada bentuk lainnya dan mudah rusak dalam larutan dan sinar. Sumber vitamin B6 adalah daging, hati dan tanaman berdaun hijau.

Peranan koenzim adalah untuk metabolisme asam amino, oleh sebab itu kekurangan piridoksin akan menyebabkan gangguan metabolisme protein. Vitamin B6 berguna untuk pencegahan dermatitis, dan gejala-gejala kerusakan syaraf pusat. Pembentukan asam nikotinat dari triptofan bergantung pada piridoksal fosfat sebagai koenzim. Karena itu penyakit pellagra seringkali disertai defisiensi piridoksin. Defisiensi piridoksin jarang terjadi. Defisiensi piridoksin dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan, dermatitis, kepekaan abnormal, kepala tertarik ke belakang, produksi telur dan daya tetas menurun serta anemia.

e. Vitamin B12 (kobalamin)

Vitamin B12 terdiri atas cincin korin yang serupa dengan porfirin yang mempunyai ion kobalt pada bagian tengahnya. Kobalamin adalah vitamin yang mengandung kobalt yang berada dalam bentuk derivat sianida yaitu sianokobalamin. Kobalamin mempunyai gugus nukleotida yang disambung dengan porfirin lewat gugus fosfat dan amino-propanol. Gugus sianida dapat diganti dengan gugus hidroksil (B12a) atau hidrokobalamin dan juga gugus nitrit (B12c) atau nitrokobalamin. Sianokobalamin berbentuk kristal padat berwarna merah hitam dan merupakan bentuk yang paling stabil, tetapi larut dalam air, tahan panas, mudah rusak karena sinar matahari, oksidasi dan proses reduksi.

Vitamin B12 banyak terdapat pada produk-produk hewan dan dalam rumen ruminansia serta jaringan organ. Vitamin B12 dibutuhkan relatif sedikit oleh unggas. Vitamin B12 berperan penting dalam pembentukan darah merah. Defisiensi kobalamin menyebabkan anemia karena sel-sel darah merah yang tidak dapat masak. Defisiensi vitamin ini juga dapat menyebabkan demielinasi serta degenerasi sumsum tulang belakang secara tidak dapat balik, inkoordinasi anggota badan (posterior), pertumbuhan lambat, mortalitas meningkat, vitabilitas menurun dan daya tetas telur menurun.

f. Biotin

Penemu biotin adalah Wildiers (1901). Biotin adalah derivat imidazol yang banyak terdapat dalam bahan makanan alam. Biotin identik dengan apa yang diperkenalkan sebagai protective factor X atau vitamin H. Vitamin H ini diisolasi dari hati. Vitamin H ini juga disebut anti egg white injury factor. Biotin juga identik dengan koenzim R, yang merupakan faktor pertumbuhan dan untuk respirasi pada beberapa bakteri. Biotin berperan dalam sintesis oksaloasetat, dalam pembentukan urea, asam-asam lemak dan purin. Dalam kenyataannya biotin berperan sebagai gugus prostetik koenzim yang bergabung dengan CO2 dengan senyawa organik. Vitamin ini berwarna putih, stabil terhadap panas, mengandung sulfur dan asam valerat, larut dalam air dan 95% etanol, mudah rusak oleh asam dan basa kuat dan mengalami dekomposisi pada temperatur 230 - 232oC.


Defisiensi biotin dapat menyebabkan kerontokan rambut, penurunan berat badan dan pada ayam peningkatan kematian serta kejadian perubahan-perubahan skeletal pada anak-anak ayam. Defisiensi ini juga menyebabkan dermatitis pada kaki lalu paruh dan mata. Yang paling sering terkena adalah ayam broiler yaitu kejadian sindrom hati berlemak (FLKS atau Fatty Liver and Kidney Syndrome). Kejadian ini disebabkan oleh penurunan aktivitas piruvat dekarboksilase yang berperan dalam glukoneogenesis (jadi pembentukan glukosa dari piruvat terhambat).

g. Niasin (asam nikotinat)

Penemu niasin adalah Huber pada tahun 1867. Niasin adalah suatu derivat piridin yang merupakan komponen tidak toksik dari nikotin. Niasin merupakan bagian dari NAD (nicotinamide adenine dinucleotide), yang juga dikenal dengan nama koenzim I. Niasin juga merupakan bagian dari molekul NADP, yang juga dikenal dengan nama koenzim II. Koenzim berperan dalam respirasi seluler, bersama-sama dengan flavoprotein. Niasin juga berperan dalam metabolisme serta absorpsi karbohidrat. Triptofan digunakan untuk sintesis niasin baik oleh mamalia maupun mikroorganisme. Niasin bersifat larut dalam air, stabil pada proses pemanasan maupun oksidasi dan dalam suasana asam maupun basa.

Sumber niasin yang potensial adalah hati, jantung, ginjal, dari hewan mamalia dan produk tumbuhan berupa dedak padi ataupun gandum, biji bunga matahari dan kacang tanah, suplemen protein, mollases, dan bungkil-bungkilan. Dengan kata lain sumber utama niasin adalah makanan yang mengandung triptofan. Perlu menjadi catatan, jagung sebagai bahan pakan utama unggas dapat menyebabkan sindrom defisiensi niasin yang disebut dengan pellagra. 

Baca juga : Guru Harus Kreatif dalam Mengajar, Jangan Monoton!

Defisiensi niasin pada pakan utama berupa jagung terjadi karena kandungan asam amino triptofan yang rendah, asam nikotinat dalam bentuk tidak tersedia (misal dalam bentuk niasitin) dan kandungan asam amino yang kurang seimbang, di mana lebih banyak kandungan asam amino lain dibandingkan dengan kandungan triptofan atau kandungan asam amino leusin berlebihan. Problem defisiensi niasin pada awalnya ditandai oleh problem gastrointestinal dan kelemahan otot, black tongue (lidah menjadi hitam), pembengkakan lidah, diare, demensia dan dermatitis. Apabila terjadi defisiensi triptofan berarti juga terjadi defisiensi niasin (defisiensi ganda). Asam nikotinat dalam dosis tinggi dapat menimbulkan pellagra yang ditandai oleh kulit kemerahan (skin flushing), gatal-gatal (pruritus) dan gangguan pencernaan dan juga telah menunjukkan kegunaan untuk menurunkan kadar kolesterol serum oleh mekanisme yang tidak dimengerti. Gejala ini disebut pula dengan 3D-4D yaitu dermatitis, diare, depresi atau dementia, dan kadang-kadang kematian.

h. Asam folat (asam "pteroylglutamic")

Penemu asam folat adalah Parke-Davis pada tahun 1943. Asam folat terdiri atas pteridin heterosiklik, asam para amino benzoat (PABA) dan asam glutamat. Kristal asam folat berwarna kuning, sedikit larut dalam air dan tidak stabil pada larutan lemak. Daya kerja vitamin ini dihambat (antagonis) oleh 4-amino-pteroylglutamic acid atau disebut aminopteri 4-NH2FH4 dan metotrexate. Asam folat termasuk dalam golongan zat yang disebut pterin. Asam folat terdiri atas tiga gugus yaitu pterin, p-amino benzoic acid (PABA) dan asam glutamat.

Sumber asam folat mudah tersedia dan terdistribusi di alam, pada hewan, tumbuhan dan mikroorgaanisme. Sumber-sumber asam folat yang potensial adalah daging, sayuran, terutama daun-daun hijau.

Defisiensi asam folat berkaitan dengan problem dalam pembentukan darah, seperti halnya dalam reproduksi seluler, hambatan pertumbuhan, pigmen bulu terganggu, pertumbuhan bulu terhambat, produksi telur dan daya tetas menurun, gangguan embrio dalam telur serta anemia merupakan pengaruh utama dari defisiensi asam folat.

i. Vitamin C (Asam askorbat)

Vitamin C mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk oksidasi (bentuk dehidro) dan bentuk reduksi. Ke dua bentuk ini mempunyai aktivitas biologi. Dalam makanan bentuk reduksi yang terbanyak. Bentuk dehidro dapat terus teroksidasi menjadi asam diketoglukanik yang inaktif. Keadaan vitamin C inaktif ini sering terjadi pada proses pemanasan. Dalam suasana asam vitamin ini lebih stabil daripada dalam basa yang menjadi inaktif. Formula vitamin C mirip dengan glukosa. Unggas dapat mensintesis vitamin C dari glukosa. Prekursor vitamin C dari glukosa adalah manosa, glukosa, fruktosa, sukrosa dan gliserol. Vitamin C merupakan bentuk enolic dari 3 keto-1-gulanofuranic lactone. Pada invitro mengalami oksidasi dengan katalisator beberapa kation seperti Mg, ascorbic oksidase, methylene blue, ferron, selenium dioxide, teramisin, streptomisin, yodium dan lain-lainnya. Proses oksidasi ini dihambat oleh senyawa pembentuk khelat (chelating compound) seperti EDTA.

Sumber-sumber asam askorbat yang potensial adalah daging, sayuran, terutama daun-daun hijau. Beberapa tanaman serta hewan termasuk unggas dapat mensintesis vitamin C. Semua spesies ayam dapat mensintesis vitamin C (AsAc) di dalam ginjal.



Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan scurvy. Gejala ini berkaitan dengan kebutuhan vitamin C untuk sintesis kolagen. Oleh karena itu, patologinya akan berkaitan dengan pelemahan pembuluh darah dan hamparan kapiler (yang cenderung menimbulkan perdarahan), ulserasi dan kelambatan penyembuhan luka. Pertumbuhan tulang terhambat dan kelambatan kesembuhan keretakan tulang. Vitamin C hanya dibutuhkaan oleh manusia, monyet dan marmut dan tidak berperan penting bagi unggas.

Belum ada Komentar untuk "Jenis Vitamin yang Larut dalam Air"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel