Ads Header

3 Problem Bahan Pakan Konvensional untuk Unggas


Terdapat tiga faktor utama yang merupakan problem dalam bahan pakan konvensional dalam menyusun pakan yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas pakan. Ke tiga hal tersebut adalah harga bahan makanan penyusun pakan unggas, ketersediaan bahan makanan untuk pakan unggas di daerah peternakan tersebut dan kandungan zat-zat makanan bahan makanan unggas.

Harga bahan makanan merupakan pertimbangan utama bagi peternak untuk menyusun pakan. Semakin murah harga suatu bahan makanan maka akan semakin menarik bagi peternak. Harga bahan makanan unggas bervariasi bergantung pada beberapa hal, antara lain jenis bahan pakan, kebijakan pemerintah dalam bidang makanan ternak, impor bahan makanan, kondisi panen dan tingkat ketersediaan bahan makanan tersebut pada suatu daerah.

Baca juga : Apple Membeli Start Up Mobeewave, Kini Apple Bisa Jadi Terminal Pembayaran   

Harga bahan makanan penyusun pakan unggas secara ekonomis sangat mempengaruhi harga pakan tersebut. Umumnya bahan makanan sumber energi seperti jagung, sorghum dan padi-padian lainnya berharga murah kecuali minyak. Harga minyak mahal karena murni sebagai sumber energi tanpa ada sumber zat makanan lainnya dan umumnya buatan pabrik. Kandungan energi minyak berkisar antara 8400 – 8600 kkal/kg bergantung dari bahan dan kualitas minyak tersebut. Minyak dianjurkan untuk diberikan pada unggas dalam jumlah yang relatif sedikit. Campuran minyak pada pakan maksimal di bawah 5%. Apabila minyak dalam pakan berlebihan akan menyebabkan pakan mudah tengik.

Bahan makanan sumber energi yang lain seperti sorghum harganya selalu lebih murah dibandingkan dengan jagung dan mempunyai kandungan zat-zat makanan yang hampir berimbang dengan jagung, tetapi tingkat ketersediaan sorghum relatif lebih rendah. Selain itu sorghum memiliki kandungan anti nutrisi tannin yang sangat berbahaya bagi unggas. Tannin menyebabkan protein tidak terserap karena diikat oleh tannin dalam saluran pencernaan. Beberapa penelitian menyarankan penggunaan sorghum dalam campuran pakan unggas sebagai pengganti jagung maksimal sebesar 30 persen. Hasil yang diperoleh menunjukkan tingkat penampilan unggas yang sama dengan pemberian jagung.

Sumber energi yang lain adalah bekatul. Harga bekatul relatif lebih murah dibanding dengan sumber energi lain, mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi (sekitar 12 – 13%) dan tersedia dalam jumlah banyak. Tetapi kelemahan bekatul adalah kandungan energi relatif agak rendah, yaitu energi sekitar 2800 kkal/kg dan mempunyai sifat bulky (amba atau mudah mengenyangkan). Oleh sebab itu dianjurkan tidak terlalu banyak menggunakan bekatul dalam campuran pakan. Beberapa penelitian menyarankan maksimal di bawah 10% masih menunjukkan hasil yang optimal.

Bahan makanan sumber protein umumnya mahal. Bahan makanan ini sampai sekarang sebagian besar (90%) masih di impor dari luar negeri. Bahan makanan sumber protein sebagai penyusun utama pakan unggas adalah bungkil-bungkilan dan produk hewani. Bungkil-bungkilan yang utama adalah bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, dan bungkil wijen. Bungkil kacang kedelai merupakan sumber utama bahan makanan unggas dari keluarga bungkil-bungkilan. Bungkil kacang kedelai mempunyai kandungan protein berkisar 40 – 45%. Problem utama bungkil kacang kedelai adalah tingkat ketersediaan yang masih bergantung pada impor. Problem tersebut menyebabkan harga bungkil kacang kedelai mengikuti kurs mata uang asing terutama dollar karena sebagian besar harus diimpor dari Amerika Serikat. Pada masa krisis ekonomi di Indonesia ketersediaan bungkil kedelai menjadi sangat langka sehingga menyebabkan banyak industri pakan ternak dan peternak gulung tikar. Problem bungkil kacang kedelai yang lain adalah adanya anti nutrisi anti tripsin yang mengganggu kerja tripsin. Pemberian maksimal yang dianjurkan adalah sebesar 30%.

Sumber protein lain bagi unggas adalah produk hewan. Beberapa contohnya adalah tepung ikan, tepung daging, tepung udang dan tepung darah. Tepung ikan merupakan sumber protein yang memiliki kandungan protein paling tinggi berkisar 60%. Problem tepung ikan mirip dengan bungkil kacang kedelai, yaitu ketersediaan bergantung pada impor dan harganya relatif lebih mahal dibanding sumber protein lainnya. Tepung ikan dianjurkan untuk diberikan sebagai campuran pakan tidak melebihi 10% pada masa awal pemeliharaan unggas. Apabila unggas akan dipasarkan maka dianjurkan penggunaan tepung ikan dikurangi sampai maksimal 3%. Hal tersebut berguna untuk mencegah bau ikan pada produk yang dipasarkan.

Sumber mineral untuk menyusun pakan unggas umumnya memiliki harga yang murah dan tingkat ketersediannya tingggi. Bahan-bahan tersebut antara lain adalah yang tersedia dalam jumlah banyak di alam dan dapat diolah adalah tepung kerang, tepung batu, tepung tulang dan kapur. Sementara itu terdapat juga bahan makanan sumber mineral sintetis buatan pabrik antara lain adalah kalsium karbonat, kalsium fosfat, fosfat koloidal dan natrium fosfat monobasic.

Umumnya bahan makanan sumber vitamin mahal harganya karena dibuat oleh pabrik dan merupakan bahan sintetis. Hal ini diiimbangi oleh tingkat penggunaan yang relatif sedikit sekali. Vitamin-vitamin sintetis yang digunakan antara lain adalah vitamin A, sterol-sterol hewan yang disinari, riboflavin dan lain-lain. Produk yang dikenal umumnya disebut dengan premiks. Premiks merupakan gabungan dari vitamin, mineral dan asam amino.

Supaya kualitas bahan makanan meningkat, maka perlu adanya feed additive. Kendala utama penggunaan feed additive adalah harga yang relatif mahal. Beberapa feed additive yang umum digunakan adalah asam amino metionin dan lisin. Metionin dan lisin ditambahkan untuk menutupi kekurang seimbangan asam amino tersebut di dalam pakan sebab jagung sebagai bahan makanan dominan umumnya kekurangan asam amino lisin dan metionin.

Baca juga : Pembeli Iphone di China Meningkat Tajam 

Kebijakan pemerintah selama ini kurang memprioritaskan dunia peternakan termasuk kebijakan tentang pakan ternak. Sehingga harga pakan tidak pernah stabil pada suatu imbangan harga tertentu. Berbeda dengan harga pangan yang diusahakan oleh pemerintah untuk selalu stabil pada harga tertentu. Seperti beras dan gula yang diatur dalam bentuk harga dasar sehingga memungkinkan petani untuk dapat menikmati keuntungan dari hasil usahanya. Jagung sebagai bahan pakan utama unggas sampai saat ini belum tersentuh regulasi pemerintah untuk penstabilan harga. Hal ini berakibat pada ketidakstabilan harga jagung dari tahun ke tahun. Pada saat panen dan penawaran melimpah, harga jagung akan turun sampai dibawah harga bekatul. Padahal secara umum, harga jagung seharusnya selalu diatas harga bekatul. Tetapi pada saat kekurangan jagung, harga jagung akan mendekati harga bungkil kacang kedelai dan tepung ikan. Padahal secara umum harga bahan pakan sumber energi jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pakan sumber protein.

Salah satu kelemahan penyusunan pakan unggas selama ini adalah kurang mengoptimalkan potensi bahan makanan lokal. Umumnya sebagian besar bahan pakan terutama sumber protein masih impor seperti bungkil kacang kedelai dan tepung ikan. Akibatnya harga bahan makanan tersebut relatif mahal. Alasan yang umum dipakai untuk pembenaran impor adalah belum adanya bahan makanan tersebut di daerah lokal dan/atau standardisasi kualitas bahan makanan impor yang relatif stabil. Sementara potensi bahan makanan lokal sampai saat ini belum tergarap dengan baik. Bungkil kacang kedelai sebagai salah satu bahan pakan unggas sumber protein utama memang kurang terdapat di daerah lokal karena jarang terdapat industri pembuatan minyak kedelai. Padahal produksi kacang kedelai relatif besar di Indonesia meskipun terjadi penurunan produksi dari tahun ke tahun. Produksi kedelai nasional selama kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami penurunan sebesar 5,2%. Produksi kedelai tahun 1997 sebesar 1,3 juta ton, turun 11% dari tahun sebelumnya yang mencatat produksi sebesar 1,5 juta ton. Demikian pula pada tahun 1996, produksi kacang kedelai sebesar1,5 juta ton, turun dari tahun 1995 sebesar 1,7 juta ton atau sebesar 11%. Kondisi berbeda terjadi di tahun 1995 dengan peningkatan sebesar 7% dari periode sebelumnya. Laju penurunan produksi tersebut antara lain disebabkan oleh produktifitas lahan yang masih rendah, berkurangnya luas areal panen, gagalnya panen karena iklim yang tidak cocok untuk pertumbuhan, juga karena belum dikuasainya teknologi produksi yang maju oleh petani. Sebagai perbandingan produktifitas di negara-negara penghasil utama seperti Amerika Serikat dan Brazil berkisar 2 – 7 ton/ha.


Tetapi umumnya, produksi kacang kedelai ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan lain seperti pembuatan tempe, tahu dan kecap, sementara hanya sedikit sekali yang digunakan untuk pembuatan minyak kedelai dan hasil sampingannya yaitu bungkil kacang kedelai. Tingkat konsumsi kedelai per kapita masyarakat Indonesia pada rata-rata tahun 1994-1996 telah menunjukkan angka 13,41 kg, mengalami peningkatan sebesar 9,98 kg bila dibandingkan pada rata-rata Pelita 1. Secara keseluruhan peningkatan konsumsi per kapita kedelai dari Pelita 1 hingga Pelita 6 sebesar 25,51%. Peningkatan kebutuhan akan kedelai ini dapat dikaitkan dengan peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk tahu dan tempe serta untuk pasokan industri kecap.

Dari data proyeksi kebutuhan dan produksi nasional terjadi kekurangan suplai kacang kedelai sebesar 485.939 ton pada tahun 1998. Sedang untuk tahun 1999 kekurangan menurun menjadi 242.683 ton. Berdasarkan sumber yang sama terjadi kelebihan suplai sebesar 21.425 ton pada tahun 2000. Terhadap proyeksi tahun terkahir ini, kemungkinan yang akan terjadi dapat dipastikan adalah sebaliknya, dikarenakan berdasarkan data produksi kedelai nasional tahun 1997 yang hanya sebesar 1,35 juta ton, sementara impor kedelai setahun sebelumnya masih sebesar 743 ribu ton atau 54,78% dari produksi nasional. Tambahan lagi dengan kenyataan akan perkembangan tingkat konsumsi perkapita nasional yang meningkat 25,51% per tahun dan perkembangan harga kedelai nasional yang kini lebih murah dibandingkan kedelai impor.

Untuk memenuhi kekurangan kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih harus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahun ke tahun, produksi dalam negeri masih relatif rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun. Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat. Puncak impor tertinggi tercatat untuk tahun 1996 sebesar 743 ribu ton, suatu peningkatan impor sebesar 50% dari tahun sebelumnya (496 ribu ton). Sementara itu angka impor terendah selama kurun waktu tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar 700 ribu ton. Secara keseluruhan selama kurun waktu tersebut kecenderungan impor kedelai nasional menunjukkan peningkatan sebesar 8,59%.

Kondisi produksi kacang kedelai tersebut diatas menyebabkan kebutuhan bungkil kacang kedelai menjadi semakin sulit. Produksi kacang kedelai baik dari produksi lokal maupun import terpaksa harus lebih mengutamakan mencukupi kebutuhan manusia dibandingkan dengan kebutuhan unggas. Hal tersebut diatas yang menyebabkan sampai saat ini Indonesia masih sangat menggantungkan diri dari import untuk mencukupi bungkil kacang kedelai. Sebagian besar import bungkil kacang kedelai berasal dari Amerika Serikat, Cina, India dan Brasil. Import bungkil kacang kedelai dari tahun ke tahun terus meingkat. Sebagai contoh permintaan import pada tahun 1998 sebesar 668.4 ribu ton menjadi sebesar 904.8 ribu ton pada tahun 1999.

Potensi tepung ikan sebagai bahan pakan sumber protein utama lainnya sebenarnya relatif banyak. Beberapa industri pengolahan tepung ikan sudah mencoba membuat standardisasi kualitas yang baku, tetapi masih banyak industri yang belum bergerak ke arah standardisasi mutu. Oleh sebab itu masih banyak industri peternakan yang tergantung pada import tepung ikan. Pada tahun 1998, Indonesia mengimport tepung ikan sebesar 35.3 ribu ton dan meningkat lebih dari dua kali lipat sebesar 71.7 ribu ton pada tahun 1999.

Ketersediaan suatu bahan makanan merupakan problem yang mempengaruhi pemilihan dan harga bahan makanan tertentu. Ketersediaan menyangkut ada tidaknya potensi bahan makanan tersebut di suatu daerah, kondisi musim yang mempengaruhi penanaman suatu bahan makanan, tersedia dalam jumlah banyak tetapi tidak atau kurang dapat digunakan dan atau kalau digunakan harus diolah dahulu sehingga harga menjadi mahal dan tingkat persaingan penggunaan dengan manusia.

Setiap daerah mempunyai potensi suatu bahan makanan tertentu pula. Pada daerah yang relatif subur, kebutuhan bahan makanan lokal untuk unggas umumnya tercukupi. Di daerah Jawa ke dua potensi bahan makanan jagung dan bekatul umumnya melimpah. Sehingga variasi harga tidak terlalu besar dari waktu ke waktu. Berbeda dengan daerah kering seperti di luar Jawa terutama di Nusa Tenggara yang potensi bahan makanan lokalnya kurang. Pasokan yang didapat umumnya dari daerah lain. Sehingga variasi harga umumnya tajam. Umumnya pada daerah kering kebutuhan bahan makanan unggas yang dominan dapat diganti dengan potensi lokal. Seperti jagung dapat diganti dengan sorghum yang mempunyai karakteristik zat makanan hampir sama. Di daerah utara Jawa yang relatif lebih kering tanaman sorghum mudah didapatkan tetapi belum dikembangkan secara besar-besaran.

Baca juga : Casing Smartphone Anti Virus dari Samsung   

Kondisi musim mempengaruhi ketersediaan suatu bahan makanan. Bekatul umumnya mudah didapatkan pada saat musim panen padi pada musim penghujan. Sehingga harga bekatul pada saat tersebut umumnya relatif lebih murah dibandingkan pada saat musim kemarau. Hal seperti ini juga dialami juga oleh jagung. Musim kemarau umumnya menyebabkan ketersediaan suatu bahan makanan menjadi berkurang sementara musim penghujan ketersediaan suatu bahan makanan menjadi berlebih.

Tingkat persaingan penggunaan bahan makanan unggas dengan manusia terjadi pada bahan baku utama, yaitu jagung. Selama ini jagung merupakan salah satu makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia. Akibatnya tingkat ketersediaan yang seharusnya tinggi menjadi rendah karena digunakan oleh manusia. Hal ini akan lebih diperparah lagi pada musim kemarau yang tingkat ketersediaan riil jagung berkurang karena penanaman jagung sudah berkurang.

Kandungan zat-zat makanan pada masing-masing bahan makanan berbeda-beda. Setiap bahan makanan mempunyai kelebihan pada suatu zat makanan tertentu tetapi mempunyai kekurangan pada zat makanan yang lain. Hal tersebut menyebabkan adanya pengelompokan suatu bahan makanan berdasarkan kandungan zat-zat makanan. Bahan makanan sumber energi adalah suatu bahan makanan yang mempunyai kandungan karbohidrat, lemak dan protein yang berenergi tinggi. Contoh bahan makanan tersebut antara l;ain adalah jagung, sorghum, minyak dan bekatul. Bahan makanan sumber protein adalah bahan makanan yang kaya akan kandungan protein. Contoh bahan makanan tersebut adalah tepung ikan, tepung daging, tepung darah, tepung udang, bungkil kacang tanah, bungkil kacang kedelai, bungkil biji karet, bungkil kelapa dan lain-lain. Bahan makanan sumber vitamin menunjukkan bahwa bahan tersebut diperlukan untuk melengkapi kebutuhan vitamin unggas. Umumnya setiap bahan makanan mempunyai kandungan vitamin yang cukup. Untuk menambah kebutuhan vitamin dapat dilakukan dengan memberi vitamin sintetis buatan pabrik. Contohnya adalah premiks. Bahan makanan sumber mineral umumnya mudah didapatkan. Contohnya adalah tepung batu, kapur, tepung tulang dan lain-lain.


Problem kandungan zat makanan ini menyebabkan secara umum unggas tidak dapat mengandalkan hanya satu bahan pakan saja, karena tidak ada satupun bahan pakan yang dapat memenuhi kebutuhan zat makanan unggas secara sendirian. Oleh sebab itu selalu terjadi pencampuran berbagai macam bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan zat makanan unggas.

Belum ada Komentar untuk "3 Problem Bahan Pakan Konvensional untuk Unggas "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel