Ads Header

Solusi Masalah Minimnya Bahan Pakan Unggas di Pasaran



Pemecahan masalah pakan unggas harus komprehensif dan melibatkan banyak pihak sehingga dapat dijadikan dasar untuk pemenuhan kebutuhan pakan unggas secara berkelanjutan. Pemecahan tersebut meluas mulai dari kebijakan pemerintah dan peran masyrakat dalam tataran teknis.

Beberapa pemecahan masalah dapat dikemukakan dibawah ini. Tetapi pemecahan tersebut masih dalam tahapan idealita. Diperlukan peran pemerintah dan masyarakat untuk mendukung langkah-langkah mengatasi problema keberadaan bahan pakan unggas.

Baca juga : Perbedaan Penting antara Guru PNS dan Honorer   

Secara umum ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan keberadaan bahan pakan unggas. Cara pertama adalah meningkatkan produksi tanaman penghasil bahan pakan unggas dengan menanam bibit unggul (hibrida) seperti jagung, sorghum, kedelai dan lain-lain, memperluas areal tanam dan mendiversikasi tanaman bahan pakan unggas, mengadopsi pola kemitraan serta menerapkan teknologi budi daya dengan benar.

Sebagai salah satu contoh jalan paling cepat untuk mengatasi masalah penyediaan bahan pakan unggas adalah meningkatkan produksi jagung. Jagung merupakan komponen utama penyusun ransum unggas yang paling mungkin tersedia dan dapat dipenuhi dari produk lokal dalam jangka waktu relatif pendek. Berdasarkan data potensi hasil serta aspek teknis dan ekonomis, kebutuhan akan jagung seharusnya sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Untuk bahan baku sumber protein, baik nabati maupun hewani, seperti bungkil kedelai dan tepung ikan masih harus didatangkan dari luar negeri. Kebutuhan jagung sebagai komponen utama ransum unggas selama tahun 1999-2003 diperkirakan mencapai 2 juta ton per tahun.

Jagung merupakan bahan makanan pokok utama di Indonesia, yang memiliki kedudukan sangat penting setelah beras. Dalam perkembangan ekonomi dewasa ini, disamping sebagai bahan makanan pokok, jagung telah menjadi lebih sangat penting karena merupakan bahan pokok bagi industri pakan ternak. Kandungan jagung dalam pakan ternak mencapai lebih dari 50% yang apabila harus diimpor, karena produksi dalam negeri tidak cukup, akan menelan devisa yang tidak sedikit

Statistik impor jagung Indonesia, semenjak tahun 1991 menunjukkan adanya gejolak peningkatan yang kadang-kadang terjadi sangat tinggi. Dari hanya impor jagung sebanyak 323.000 ton pada tahun 1991, bisa menjadi lebih dari 1 juta ton pada tahun 1997. Ini antara lain dikarenakan adanya kebutuhan untuk pakan ternak dan hampir 90% dari kebutuhan jagung untuk pakan ternak tersebut kadang-kadang terpaksa harus diadakan melalui impor. Devisa yang harus dikeluarkan untuk impor jagung diberitakan mencapai US $ 168 juta sampai US $ 196 juta untuk tahun 1997.

Dengan memperhatikan keadaan dan luas lahan serta kondisi lingkungan (iklim) di sebagai besar wilayah Indonesia, impor jagung, seharusnya bisa ditekan sekecil-kecilnya apabila ada upaya yang mendorong petani memanfaatkan lahannya dengan baik untuk penanaman jagung. Masalah bagi petani di dalam penanaman jagung, lebih banyak dikarenakan kesulitan mendapatkan modal dan tidak memiliki ketrampilan tehnis dalam menghadapai berbagai kendala serangan hama dan penyakit serta penggunaan benih varitas yang unggul.

Pemberian kredit kepada petani guna penanaman jagung, dapat diharapkan memberikan hasil apabila disertai dengan adanya bantuan pembinaan budidaya serta kontrol yang baik terhadap serangan hama dan penyakit. Selanjutnya, usaha tani jagung juga hanya akan bisa berkelanjutan apabila disertai dengan diperolehnya pendapatan yang memadai untuk kesejahteraan keluarganya. Oleh karena itu pencapaian produksi jagung yang tinggi perlu diikuti dengan adanya pemasaran yang pasti dan mampu menciptakan keuntungan bagi petani. Biasanya petani selalu berada pada posisi yang sulit, karena pemasaran hasilnya menghadapi dilema harga yang tidak menguntungkan, terutama pada saat-saat panen. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadopsi pola kemitraan antara petani dengan pabrik makanan ternak.

Apabila dalam kemitraan antara petani dan pengusaha pabrik makanan ternak (PMT) dapat direncanakan kerjasama pengelolaan yang bisa mengatasi permasalahan yang mungkin timbul dalam kerangka usaha tani jagung, maka pemberian kredit kepada petani diharapkan dapat berhasil mendorong peningkatan produksi sehingga mampu menggantikan jagung impor guna memenuhi kebutuhan perusahaan pakan ternak. Ini membantu menciptakan penghematan devisa negara. Disamping itu dengan mantapnya produksi jagung dalam negeri pada tingkat yang mencukupi, pasokan jagung untuk produksi pakan ternak akan lancar. Manfaat selanjutnya adalah terselenggaranya kelancaran dalam usaha peternakan ayam untuk produksi telur dan daging yang sangat penting guna meningkatkan kualitas gizi makanan masyarakat Indonesia.

Pola kemitraan terpadu merupakan salah satu model pengembangan potensi agribisnis jagung. Selain jaminan harga dan pasar, pola kemitraan diharapkan bisa menjembatani masalah-masalah yang dihadapi kalangan petani menyangkut aspek produksi dan penanganan pascapanen. Tentu saja, pola pengembangan tersebut bisa melibatkan banyak pihak seperti penyedia sarana pertanian, pemerintah sebagai pengawas, dan tentunya perbankan sebagai penyedia dana.

Baca juga : Tips Agar Anak Tidak Bosan Belajar di Rumah  

Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam pola kemitraan terpadu yang sesuai dengan bidang usahanya. Bisa saja, hubungan kerja sama antara kelompok petani dengan industri pengolahan atau eksportir dirancang seperti hubungan antara plasma dengan inti pada pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Petani merupakan plasma bertanggung jawab untuk menyediakan hasil panenan sesuai dengan mutu yang disepakati, sementara industri industri pengolahan sebagai inti bertanggung jawab menyerap hasil panen serta memberikan pendampingan.


Kerja sama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikutsertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini harus disiapkan dengan dasar saling berkepentingan di antara semua pihak yang bermitra. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan kemampuan produksi maupun luas areal tanaman jagung di Indonesia bisa meningkat, mengingat selama 40 tahun relatif tidak banyak mengalami perubahan.

Kapasitas produksi perusahaan makanan ternak (PMT) di Indonesia, sekitar 6.908.000 ton/tahun. Apabila 50% bahan bakunya adalah jagung, berarti setiap tahun memerlukan pasokan hampir 3,5 juta ton. Dengan rata-rata produksi jagung hibrida 5 ton/ha dan 2 kali tanam pertahun, ini berarti untuk memenuhi kebutuhan PMT saja akan diperlukan lahan sekitar 350.000 ha/tahun.

Salah satu pemecahan masalah yang mungkin dapat dilakukan adalah membentuk suatu wadah untuk menampung produk yang dihasilkan untuk menjamin ketersediaan pasar dan terhindar dari permainan pihak ketiga. Lembaga semacam BULOG dapat menjadi alternatif untuk menjawab masalah ini. Sama seperti beras yang dapat distabilkan tingkat harganya, jagung apabila diperlakukan seperti beras akan menyebabkan secara jangka panjang akan terjadi kestabilan harga di tingkat konsumen.

Pemecahan lain adalah meningkatkan penerapan teknologi pasca panen di daerah-daerah sentra produksi yang dilengkapi dengan sarana/prasarananya seperti silo, alat pengering, dan gudang penyimpanan, sehingga kelebihan produksi dapat disimpan untuk jangka waktu yang panjang. Dengan cara demikian, kontinuitas pengadaan jagung dan harga produk dapat dipertahankan/stabil.

Mensinkronkan kebijakan antar instansi terkait dalam upaya peningkatan produksi sehingga permintaan jagung untuk konsumsi masyarakat dan ternak dapat dipenuhi merupakan alternatif pemecahan lainnya. Selama ini kebijakan pemerintah tidak terprogram secara baik dalam jangka panjang dan hanya berfungsi untuk mengatasi masalah saat itu juga, parsial dan kadang terjadi tumpang tindih dengan instansi lainnya. Sering terjadi benturan antara masing-masing departemen karena mempunyai agenda kepentingannya sendiri. Contoh yang paling jelas adalah sering terjadinya gesekan antara Departemen Perindustrian dengan Departemen Pertanian. Kepentingan Departemen Pertanian adalah menjaga dan meningkatkan panen bahan pangan dari hasil pertanian di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan Departemen Pertanian cenderung protektif dan agak alergi dengan impor. Sementara itu Departemen Perindustrian memandang dari sisi kebutuhan industri yang memerlukan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produknya yang sebagian harus diimpor karena keterbatasan bahan baku. Dua kepentingan yang bertolak belakang ini seharusnya dipadukan antar instansi terkait.

Mengembangkan industri perunggasan dan pabrik pakan di daerah sentra produksi untuk mengurangi biaya produksi unggas. Untuk itu, diperlukan suatu kebijakan pengaturan wilayah/tata ruang yang komprehensif. Selama ini sebagian besar konsentrasi industri peternakan berada di Jawa. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sebagain besar konsumen, sumberdaya bahan baku dan sarana industri mudah tersedia di Jawa.

Alternatif lainnya yang akan menjadi bahan bahasan dalam buku ini adalah potensi bahan pakan non konvensional lokal untuk mengganti bahan makanan harus dimaksimalkan. Di banyak daerah di Indonesia terdapat bahan-bahan makanan sumber protein dari hewani maupun nabati, seperti bungkil biji karet, bungkil kelapa, bungkil inti sawit, isi rumen dan lain-lain. Bungkil biji karet didapatkan dari industri minyak karet. Sementara itu perkebunan karet tersebar di seluruh pulau Jawa dan Sumatera. Demikian juga bungkil kelapa dan bungkil inti sawit terdapat dalam jumlah besar di seluruh kepulauan Indonesia. Isi rumen umumnya menjadi limbah dan mengganggu lingkungan. Sementara apabila dioptimalkan dapat menghasilkan sumber bahan makanan yang luar biasa banyak karena setiap hari selalu tersedia di rumah pemotongan hewan.

Baca juga : Google dan Amazon Akan Buka Data Center di Indonesia  

Pada beberapa daerah potensi bahan makanan unggas sangat banyak, tetapi kurang atau tidak dapat dimanfaatkan karena beberapa alasan, antara lain kandungan anti nutrisi tinggi, harus diolah dahulu supaya dapat tersedia ataupun masyarakat tidak menyadari kegunaan bahan makanan tersebut. Contoh yang paling nyata adalah bungkil biji karet. Biji karet berlimpah ruah di daerah Jawa dan Sumatera, tetapi harus diolah dahulu supaya isi biji karet tersebut dapat digunakan sebagai bahan makanan. Setelah isi biji karet dikeluarkan selanjutnya diperas untuk diambil minyaknya. Bungkil yang didapatkan akan mengandung protein yang relatif tinggi. 


Kelemahannya adalah adanya anti nutrisi asam sianida yang harus diolah kembali supaya dapat dipergunakan sebagai bahan makanan. Di samping itu sampai sekarang masyarakat di sekitar perkebunan karet hanya menganggap biji karet sebagai limbah, sehingga kurang dimanfaatkan. Hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai konsumsi manusia. Pengolahan bahan baku pakan nonkonvensional (bungkil kacang gude, kecipir, koro, bungkil kacang tanah, dan produk sampingan agroindustri lainnya) perlu dipikirkan agar dapat menghasilkan produk bahan baku pakan siap pakai dan berdaya guna optimal.

Belum ada Komentar untuk "Solusi Masalah Minimnya Bahan Pakan Unggas di Pasaran"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel