Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Surat Al-Ikhlas Ayat 1-4 Kelas 1 SD, SMP dan SMA Beserta Arti dan Bahasa Arabnya


Teks Ayat dalam Bahasa Arab


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ (3) وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Terjemah Ayat


Dengan Menyebut Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

1. Katakanlah (wahai Muhammad): Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Allah tempat meminta segala sesuatu.

3. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.

Pesan Surat Al-Ikhlas, 5 Point Penting


Pesan Penting Q.S. al-Ikhlas bahwa semua manusia hendaknya berdoa atas segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT karena Allah-lah yang menciptakannya.

Penjelasan lain adalah bahwa Allah tidak diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya. Q.S. al-Ikhlas menjelaskan Allah SWT Esa. Kita hanya menyembah Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa artinya Tuhan yang Tunggal.
  1. Surat Al Ikhlas menekankan sifat Allah yang Tunggal. Tidak ada Tuhan yang lain selain Allah dan tidak ada yang setara dengan Allah. Tidak ada realitas kecuali realitas Allah, dan tidak ada wujud nyata kecuali wujud Allah.
  2. Tidak ada yang dapat menandingi atau menyamai Allah dalam bentuk apapun.
  3. Semua makhluk bergantung dan membutuhkan Allah. Allah adalah satu-satunya tujuan untuk memenuhi semua keinginan makhluk-Nya.
  4. Allah tidak memiliki anak, tidak memiliki putra, dan tidak memiliki istri.
  5. Berisi prinsip-prinsip dan dasar-dasar iman.

Pengertian Kosa Kata


اَحَدٌ Satu, tidak banyak. Zat-Nya satu. Allah tidak terdiri dari unsur-unsur kebendaan yang beraneka ragam, dan bukan pula terdiri dari bahan pokok lainnya.

الصَّمَد Yang selalu menjadi tempat bergantung ketika dalam keadaan yang penting (tempat meminta). Seperti yang dikatakan seorang penyair:

" لَقَد بَكَرَ النَّاعى بِخَير بَنِى اَسد بِعَمْرِ وبْنِ مَسعود وَ بِالسَّيِّد الصَّمد "

“Orang yang tertimpa musibah itu, secara dini telah menemui orang yang paling baik di kalangan Bani Asad, yaitu Amr bin Mas’ud, seorang pemimpin dan tempat dimintai pertolongan.”

المُكَافِئ – الكُفْءُ (كفؤ) Yang menyamai-Nya, dalam hal kemampuan dan kekuasaan-Nya.

Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlas


Abusy Syaikh meriwayatkan dalam kitab al-‘Azhamah dari Aban dari Anas yang berkata, “Suatu ketika orang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Abal Qasim, Allah telah menciptakan para malaikat dari cahaya tirai-Nya, Adam dari tanah liat yang diberi bentuk, Iblis dari kobaran api, langit dari awan, dan bumi dari buih air. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami bagaimana hakikat Tuhanmu itu?’ Rasulullah belum menjawab pertanyaan tersebut hingga Jibril datang dengan membawa surat ini.”[1]

Ad-Dahaq meriwayatkan bahwa kaum musyrik pernah mengutus Amir bin Tufail menghadap Rasulullah. Amir mengatakan kepada Nabi atas nama mereka, “Engkau telah memecahkan tongkat (persatuan) kami, dan engkau telah mencaci tuhan-tuhan kami. Engkau juga telah menentang agama nenek moyangmu sendiri.

Jika engkau merasa miskin, maka kami akan jadikan engkau seorang yang kaya raya. Dan jika engkau gila, maka kami akan mengobatimu. Dan jika engaku mencintai seorang wanita, maka kami akan nikahkan dengannya.” Kemudian Nabi menjawab, “Aku tidak miskin, tidak gila, dan tidak mencintai wanita. Aku adalah Rasulullah. Aku mengajak kalian dari penyembahan berhala kepada menyembah Allah.” Lalu mereka mengutus Amir sekali lagi dan berpesan kepadanya, “Katakanlah kepada Muhammad: ‘jelaskanlah Tuhan yang disembahnya! Apakah terbuat dari emas atau perak?” kemudian Allah menurunkan surat ini.[2]

Keutamaan Surat Al-Ikhlas


Adapun surat Al-Ikhlas memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:

1. Surat al-Ikhlas setara dengan tsulutsul Qur’an (sepertiga Al-Qur’an).

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ‘qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surat al-Ikhlas. Kemudian Rasulullah bersabda: “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga al-Qur’an”.[3]

An-Nawawi mengatakan dalam riwayat yang lainnya dikatakan: “Sesungguhnya Allah membagi al-Qur’an menjadi tiga bagian. Lalu Allah menjadikan surat ‘Qul Huwallahu Ahad’ (surat al-Ikhlas) menjadi satu bagian dari 3 bagian tadi.”

Lalu Al-Qadhi mengatakan bahwa al-Marizi berkata, “Dikatakan bahwa maknanya adalah Al-Qur’an itu ada tiga bagian yaitu membicarakan kisah-kisah, hukum, dan sifat-sifat Allah. Sedangkan surat Qul Huwallahu Ahad (surat al-Ikhlas) ini berisi pembahasan pengenai sifat-sifat Allah. Oleh karena itu, surat ini disebut sepertiga al-Qur’an dari bagian yang ada.”[4]

2. Membaca al-Ikhlas 10x dalam sehari menyebabkan Allah membangun rumah di surga. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam hadits: “Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas hingga selesai 10x maka Allah mmbangunkan baginya sebuah rumah di surga.”[5]

3. Membaca surat al-Ikhlas sebab mendapatkan kecintaan Allah.

Dari Aisyah bahwa Rasulullah mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabat selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan ‘Qul Huwallahu Ahad’. Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah, maka beliau bersabda: “Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab, “Karena di dalamnya terdapat sifat ar-Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.”[6]



Adapula 9 waktu yang dianjurkan untuk membaca surat al-Ikhlas, yaitu:

1. Waktu pagi dan sore hari

2. Sebelum tidur

3. Ketika ingin meruqyah (membaca doa dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit)

4. Wirid sesudah sholat (sesudah salam)

5. Dibaca ketika sholat sunnah fajr (qobliyah Subuh)

6. Dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah Maghrib

7. Dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at

8. Dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada hari Jum’at

9. Ketika shalat dua raka’at di belakang maqom Ibrahim setelah thawaf


Pembahasan Ayat


Sebelum memasuki pembahasan ayat, adakalanya saya menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud kata Al-Ikhlas dalam surat ini. kata ‘al-ikhlas’ berasal dari kata khalasha atau akhlasha ( خَلَصَ - اَخْلَصَ ) yang berarti bersih, jernih, murni, selamat, bebas, jujur, tulus, dan tidak bercampur dengan sesuatu yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kata al-ikhlas mengacu pada makna “kesempurnaan sifat-sifat Allah, dan sifat-sifat Allah terlepas dari segala kekurangan dan kecatatan.”[7]

“قُل هو اللهُ احد “

Katakanlah (hai Muhammad) kepada orang yang bertanya kepadamu mengenai sifat Tuhan, “Allah itu Esa. Maha Suci dari bilangan dan susunan. Sebab, jika Zat itu terbilang, maka berarti Tuhan membutuhkan semua bentuk kumpulan tersebut, sedang Allah tidak membutuhkan sesuatu apa pun.”

Adapun di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Dia-lah Tuhan Yang Pertama dan Yang Esa, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, dan tidak ada yang menyerupai dengan-Nya.

“اللهُ الصمد “

Allah-lah yang menjadi tempat bergantung semua hamba-Nya, dan mereka juga menghadapkan dirinya kepada-Nya untuk meminta agar permintaan mereka itu dikabulkan tanpa perantara atau koneksi. Dengan demikian, tampak salahlah akidah kaum musyrik Arab yang mengharuskan adanya perantara atau koneksi ketika meminta kepada Tuhan. Juga tampak salah akidah agama-agama lain yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Tuhan, yaitu mereka diangkat khusus untuk menjadi perantara antara dengan Tuhan dalam memenuhi kehendak mereka. Karenanya, mereka minta kepada para perantara –baik masih hidup ataupun sudah mati- dengan khusyuk dan merendahkan diri. Mereka berziarah ke kubur-kubur para perantara itu, seperti khusyuk-nya mereka menghadap Tuhan, bahkan lebih takut dibanding takutnya kepada Tuhan.

Adapun yang mengartikan kata ash-shamad yaitu yang dimaksud ataupun yang disengaja dan dituju untuk meminta hajat. Bukan kepada kubur-kubur, batu-batu, jin-jin, atau malaikat-malaikat sekalipun.[8]

“ لم يلِد “

Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Ayat ini merupakan jawaban terhadap kaum musyrik Arab yang mempunyai dugaan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah. Juga merupakan bantahan untuk orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa al-Masih itu anak Allah. Hal ini pula berdasarkan pada QS As-Saffat, 37: 149-152:

فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَ لَهُمُ الْبَنُوْنَ. اَمْ خَلَقْنَا الْملئكةَ اِنَاثًا وَ هُمْ شَاهِدُونَ. اَلآ اِنَّهُمْ مِنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُولونَ وَلَدَ اللهُ اِنَّهُمْ لَكذبونَ

" Tanyakanlah (hai Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Makah), ‘Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki mereka, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, ‘Allah beranak’. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”

“ و لم يُولَد “

Tidak diperanakkan. Sebab, jika Allah itu diperanakkan, berarti sama dengan selain Allah. Berarti Allah itu tadinya tidak ada menjadi ada. Maha Suci Allah dari semua hal tersebut.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa tafsiran ayat ini ialah: Allah tidak melahirkan seperti Maryam. Dan tidak dilahirkan seperti Isa dan ‘Uzair.

Ayat ini merupakan jawaban atas keyakinan kaum Nasrani yang mengatakan bahwa Isa al-Masih adalah anak Allah. Juga merupakan bantahan terhadap keyakinan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah.

“و لم يكن له كفوًا احد “

Tidak ada yang menyamai Allah. Ayat ini merupakan jawaban terhadap keyakinan orang-orang yang beranggapan bahwa Allah itu ada yang menyamai-Nya dalam seluruh perbuatan-Nya. Keyakinan seperti ini juga dianut oleh kaum musyrik Arab yang mengatakan bahwa para malaikat itu adalah sekutu Allah.[9]

Adapun di dalam kitab Tafsir Ibnu Tafsir menjelaskan bahwa dua ayat terakhir di dalam surat ini, yaitu ( لم يلد و لم يولد و لم يكن له كفوًا احد ) bermakna tidak bagi-Nya anak, tidak pula bagi-Nya diperanakkan, dan tidak ada bagi-Nya pendamping.

Surat ini mengandung nilai sanggahan terhadap keyakinan kaum musyrik dengan seluruh aneka keyakinannya. Allah mensucikan diri-Nya dari berbagai sifat yang menjadi keyakinan kaum musyrik melalui firman-Nya “Allahu Ahad”.

Allah juga mensucikan diri-Nya dari segala bentuk kebutuhan dengan firman-Nya “Allahus-Samad”. Allah juga mensucikan diri-Nya dari hal-hal yang baru (dilahirkan) dan berawal mula melalui firman-Nya “Lam Yalid”. Allah mensucikan diri-Nya pula dari segala bentuk rupa yang sejenis atau yang serupa dengan-Nya melalui firman-Nya “Wa Lam Yulad”. Allah juga mensucikan diri-Nya dari adanya sekutu melalui firman-Nya “Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad”.



Adapun keutamaan surat al-Ikhlas secara ringkas, diantaranya:

1) Sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an

2) Membaca al-Ikhlas 10x dalam sehari menyebabkan Allah membangun rumah di surga

3) Membaca surat al-Ikhlas sebab mendapatkan kecintaan Allah.

Surat ini mengandung pilar terpenting mengenai dakwah Nabi, yaitu penjelasan tentang prinsip tauhid dan mensucikan Allah. Juga tentang batasan secara umum bagi amal perbuatan, dengan penjelasan amal-amal saleh dan lawannya. Juga penjelasan tentang keadaan jiwa manusia setelah mati, yaitu akan dibangkitkan dan akan dibalas sesuai amal masing-masing, baik pahala maupun siksaan. Dalam hadits shohih disebutkan bahwa “ sesungguhnya surat ini menyamai sepertiga Al-Qur’an”

Sebab orang yang mengerti makna surat ini dengan penghayatan yang mendalam tentang kebenaran yang dikandungnya, maka ia akan memahami bahwa apa yang diurai dalam agama Islam adalah masalah tauhid dan mensucikan Allah. Semuanya telah disebutkan secara global dalam surat ini.

Baca juga : Tips agar Anak Berprestasi di Sekolah menurut Agama Islam
 

[1] Jalaluddin as-Suyuthi. Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani, 2008. Hal 649-650
[2] Bahrun Abubakar, Lc. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 30. Semarang: PT Karya Toha Putra, 1993. hal. 463
[3] HR Bukhari no. 6643
[4] Syarh Shohih Muslim, 6/94
[5] HR. Ahmad
[6] HR. Bukhari
[7] Tafsir Pase Paradigma Baru. Jakarta: Bale Kajian Tafsir Al-Qur’an Pase, 2001
[8] Prof. Dr. h. Mahmud Yunus. Tafsir Qur’an Karim. Jakarta: Kemenag RI, 2004 hal. 923
[9] Bahrun Abubakar, Lc. Terjemahan Tafsir Al-Maraghy 30. Semarang: PT Karya Toha Putra, 1993 hal. 465-466

Posting Komentar untuk "Pesan Surat Al-Ikhlas Ayat 1-4 Kelas 1 SD, SMP dan SMA Beserta Arti dan Bahasa Arabnya"